Tips Kuliah di Jerman Gratis,Tanpa Uang Jaminan dan Dapat Uang Saku Part 1

Saya kira semua akan setuju bila saya katakan bahwa semua orang tua di Indonesia memimpikan atau menginginkan anak-anaknya bisa kuliah di perguruan tinggi. Dengan mengenyam pendidikan tinggi diharapkan anak-anak akan memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dari sekolah biasa SMA, sehingga dalam pencapain karirnya akan lebih mudah dibandingkan dengan anak-anak yang hanya lulusan SMA. Namun sayangnya tidak semua orang tua bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi karena terbentur masalah biaya kuliah yang cukup tinggi apalagi kalau kuliahnya di perguruan tinggi swasta.

Saat saya mengurus dokumen untuk pindah ke Jerman, saya bertemu dengan seorang pelajar dari Surabaya di kedutaan Jerman. Pelajar tersebut akan meneruskan kuliah S2 jurusan Environment di Jerman, Kemudian sayapun menanyakan alasannya mengapa kuliah jauh-jauh ke Jerman.

Sambil senyam semyum diapun menjawab , ”Selain murah , saya juga ingin tahu bagaimana hidup di negeri orang”

Setelah beberapa tahun saya tinggal di Jerman, saya pikir biaya kuliah di Jerman tidak semahal kuliah di Amerika, Inggris ataupun Australia bahkan Indonesia. Tidak sedikit pelajar Indonesia yang bisa kuliah di Jerman dengan biaya sendiri.

Saya sering melihat beberapa pelajar baik dari Indonesia ataupun non Indonesia yang tidak pernah mendapat uang saku  dari orang tuanya. Mereka bekerja penuh waktu sepanjang musim panas atau liburan semester dan paruh waktu selama sekolah. Mereka bisa berusaha hidup hemat bertahun-tahun sampai mereka tamat kuliah.  Saya yakin dengan kegigihannya dan kerja kerasnya mereka akan lebih mudah ketika mereka berkarir dan terjun ke masyarakat.

Au-Pair , FSJ , Ausbidung Menjadi Sarana Meraih Kuliah di Jerman

 

Saya sering bertemu dengan beberapa pelajar Indonesia dan ngobrol-ngobrol bagaimana mereka bisa kuliah di Jerman. Ada dua tipe pelajar Indonesia yang belajar di Jerman.  Pertama, mereka datang dan belajar  benar-benar dibiayai penuh oleh kedua orang tuanya dan ke dua , mereka datang dan belajar  ke Jerman tidak dibiayai oleh kedua orang tuanya namun mereka datang melalui beberapa proses dengan mengikuti program diantaranya melalui program Au-pair,  FSJ, Ausbildung dan beasiswa.

Dengan melalui jalur Au-Pair , FSJ terlebih dahulu kemudian mereka Ausbildung atau ada juga yang melalu beasiswa  bisa belajar di Jerman dengan tidak harus mempunyai tabungan yang banyak. Jadi bisa disimpulkan bahwa ternyata dunia memiliki kemungkinan untuk menjawab dan mewujudkan impian bagi orang-orang yang punya semangat belajar tapi tak banyak tabungan.

 

Au-Pair

Pengertian dan Manfaat Menjadi Au-Pair

 

Apa sih Au-Pair itu ?

Seseorang yang berusia muda yang tinggal di luar negeri dengan keluarga angkatnya dan menjaga anak-anak  dari keluarga angkat tersebut dengan imbalan akomodasi dan uang saku.  Au-pair ini bukanlah nany atau pengasuh anak-anak dan bukan juga pembantu atau TKW. Au-Pair ini tinggal di keluarga angkatnya dan dianggap keluarga sebagai kakak dari anak-anaknya.

Program Au-Pair di Jerman ini adalah legal dan diakui negara memberikan kesempatan kepada para remaja dari luar negara Jerman untuk :

  1. Memperdalam keterampilan berbahasa Jerman
  2. Mengenal dan belajar budaya Jerman

Selain belajar bahasa dan mengenal budaya Jerman, Au-pair pun mendapatkan tempat tinggal, uang saku, ausuransi dan kesempatan mengikuti kursus bahasa Jerman.

Dengan tinggal dengan keluarga angkat di Jerman maka Au-pair tersebut akan belajar untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru menjadi lebih flexible serta lebih bisa mengembangkan kompetensi antar budaya serta menambah percaya diri, mandiri dan dewasa.

 

Usia Au-Pair 

 

Pada saat memasuki Jerman Au-PAir harus berusia minimal 18 tahun . Batas usia pada saat pengajuan permohoanan visanya 17 tahun dan maximal 26 tahun.  Permohonan visa dapat diajukan 6 bulan sebelum rencana tinggal sebagai Au-PAir.

 

Bagaimana Menjadi Au-Pair

 

Bila anda berusia 18 tahun sampai 26 tahun dan berminat menjadi Au-Pair maka mulailah anda belajar bahasa Jerman. Tingkat level berapakah bahasa Jerman untuk Au-PAir?  Ketentuannya level minimum bahasa untuk Au-Pair adalah Level A1 sudah cukup namun pada kenyataanya level A2 di Indonesia itu hampir sama dengan A1 di Jerman dan pada real kehidupan pun setidaknya A2 lah yang paling cocok dibandingkan dengan A1 agar lebih bisa mengerti ketika berkomunikasi dengan keluarga angkatnya. Kebanyakan Au-PAir in perempuan tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki pun bisa.

Setelah anda belajar bahasa Jerman anda bisa mendaftar langsung menjadi Au-Pair melalui web site :

Au-PAir Word

Betreut.de

Au-Pair.com

 

Kisah Nuky Sebagai Au-Pair di Jerman 

 

 

Saya disini menampilkan salah satu profile Au-PAir Indonesia dengan harapan,  anda akan mendapatkan gambaran apa itu Au-PAir sebenarnya.

 

 

 

Nuki, Gadis manis ramah ini usianya 23 tahun, lahir di kota pahlawan Surabaya. Di balik ramah dan senyumnya, Nuki punya banyak cerita yang bisa menginspirasi anak-anak muda Indonesia.

Bagi saya seorang ibu, merasa ikut bangga dengan perjuangannya saat dia sekolah , saat dia menghadapi masalah putus sekolah. Saya yakin orang tuanyapun bangga dengan perjuangan hidup Nuki karena Nuki tidak pernah sekalipun menyalahkan ketidakmampuan kedua orang tuanya namun dia bangkit sendiri membantu orang tuanya dan berusaha mewujudkan impiannya.

 

Gagal Kuliah di Indonesia bukan berarti gagal mewujudkan cita-citanya

 

Dengan berat hati Nuki harus meninggalkan kota Surabaya. Saat dia duduk di bangku SMA. Dia harus pindah ke Blitar tempat kelahiran ibunya karena ayahnya mengalami sakit stroke sehingga tidak bisa bekerja lagi.

Nuki adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Sejak ayahnya sakit, ibunyalah yang menggantikan ayah Nuki dalam mencari nafkah dalam mencukupi kebutuhan keluarganya. Ibu Nuki berjualan kue dan kadang menjadi tukang masak panggilan kalau ada acara di kampungnya.

Nuki, yang saya kenal sebagai anak baik hati dan ramah ini selalu membantu ibunya setiap pagi berjualan kue. Semangat sekolahnya tak pernah padam.

Setelah SMA kemudian Nuki melanjutkan kuliah di Unesa jurusan sastra Jerman. Dia mengambil jurusan bahasa Jerman karena memang dari dulu punya cita-cita ingin ke Jerman dan bekerja di Jerman. Namun sayang kuliahnya kandas di tengah jalan karena alasan tidak punya biaya.

Sebenarnya saat itu bukan hanya Nuki saja yang kandas sekolahnya namun adiknya juga hanya bisa sekolah sampai SMP saja. Sedih memang, Nuki hanya bisa menangis dan bertanya pada dirinya. mengapa dia dan adiknya tidak punya kesempatan untuk sekolah seperti anak-anak lainnya.

Putus sekolah bagi Nuki bukan putus segalanya. Putus sekolahnya dan adiknya membuat Nuki bangkit dan menempa dirinya untuk menjadi orang yang lebih kuat serta mendorongnya untuk berusaha menggapai cita-citanya yang masih menyangkut dalam kepalanya yaitu ingin  ke Jerman dan bekerja di Jerman.

Ujian tersebut tidak mematahkan semangatnya. Nuki berusaha mencari informasi mengenai Jerman dan bagaimana agar dia bisa bekerja di Jerman. Setelah cari sana sini akhirnya dia pun mendapatkan informasi dan solusinya.

Menurutnya Au-Pair adalah cara mudah menuju Jerman. Banyak Website yang manawarkan jasa untuk Nuki bisa menjadi Au-Pair di Jerman, namun Nuki saat itu memilih melamar di www.aupairworld.com.

”Aku, kurang lebih tiga bulan dan ini keluarga ke dua yang interview sama aku dan aku dapat suport saat proses pembuatan visa dari agen Au-Pairworldnya”jelas Nuki saat saya menanyakan berapa lama proses lamaran dan mengenai visa Au-Pairnya.

Saat berangkat ke Jerman, Nuki berusaha bekerja mencari uang sana sini untuk membayar sendiri tiket pesawatnya dengan alasan dia tidak mau ada hutang piutang dengan keluarga angkatnya.

 

Suka Duka Au-Pair

Menurut pandangan Nuki, Au-PAir adalah tukar budaya antara keluarga Jerman dan budaya asal Au-Pair. Dengan menjadi Au-Pair, dia mengetahui bagaimana keseharian dan kehidupan orang Jerman.

Ternyata menurut pengakuannya banyak suka dukanya saat menjadi Au-Pair karena dia harus hidup dengan keluarga angkatnya, mau tidak mau dia harus berinteraksi, berpartisiasi dan berintegrasi dengan mereka.

Bagi dia Au-Pair adalah menyenangkan karena dia bisa hidup di Jerman sesuai dengan cita-citanya tanpa harus memikirkan biaya-biaya seperti untuk makan, sewa rumah kaaarena semua kebutuhan sehari-harinya ditanggung orang tua angkatnya.

Saat jadi Au-Pair dia mendapatkan hari libur. Saat libur, dia bisa keliling Eropa sendiri atau pada saat keluarga angkatnya berlibur, diapun bisa ikut menikmati liburan bersama mereka.

Nuki dianggap bagian dari keluarga sebagai kakak atau sister dari anak ibu angkatnya maka banyak waktu untuk bermain bersama anak-anak selain itu dia juga menjadi tahu bagaimana cara mendidik anak-anak yang benar dengan cara atau ala-ala Jerman.

Karena setiap harinya beraktifitas dengan keluarga angkatnya maka dia memaksakan diri untuk berkomunikasi dengan bahasa Jerman dengan demikian  kemampuan bahasa Jermannya lebih terasah dan dia mengetahui juga lebih jauh mengenai budaya , kebiasaan dan cara bermasyarakat orang Jerman.

Dukanya, jam kerjanya tidak teratur karena dia harus mengikuti kegiatan anak-anak. Karena dianggap sebagai kakak dari anak keluarga angkatnya, terkadang Nuki jadi sasaran bila  anaknya berbohong.

Hidup dengan keluarga lain kadang harus mengikuti  aturan-aturan yang berlaku di rumah keluarga angkatnya jadi kadang tidak terlalu bebas, apa-apa harus minta ijin terlebih dahulu. Itulah suka duka Au-Pair yang pernah di rasakan Nuki.

Setelah menjadi Au-Pair, Nuki melanjutkan menjadi FSJ. Apakah itu FSJ ? Bagaimana FSJ ? Apakah bisa melamar FSJ dari Indonesia ?

Mau tahu kelanjutan perjuangan Nuki dan cerita profile lainnya yang punya cita-cita kuliah di Jerman

Ikuti episode berikutnya ya klik di sini