Cara Hemat Penyetoran Uang Jaminan Kuliah di Jerman, Bagi Yang Sudah berada di Jerman

Menyukai Bahasa Jerman Dalam Menit-menit Terakhir 

Tidak ada yang bisa Vitri lakukan kecuali menerima kenyataan,  ketika ia diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung dengan jurusan yang bukan ia inginkan. 

Awalnya ia berniat memilih jurusan Bahasa Jepang. Akan tetapi entah kenapa perempuan cantik berkerudung asal Tasik ini salah mengisi kode jurusan saat pendaftaran. Jadi yang ia isi adalah kode jurusan bahasa Jerman. Akhirnya saat pengumuman tiba, galaupun melanda. Antara bahagia dan bingung. Bahagia karena ia diterima di perguruan tingi negeri,   namun disisi lain diapun harus menerima kenyataan bahwa dia harus kuliah di jurusan yang bukan pilihannya.   

Banyak yang mempercayai fakta, bila anda mempelajari suatu pelajaran tertentu tanpa memiliki minat atau bukan pilihannya maka besar kemungkinan anda akan berhenti sebelum hatam.  Demikian pula saat itu, fakta tersebut hampir-hampir menjangkiti Vitri. 

Berkali-kali Vitri ingin pindah jurusan. Tapi niatnya selalu ia urungkan,   karena adiknya harus melanjutkan kuliah juga dan tidak ada dana lebih untuknya. Jadi mau tak mau ia harus tetap bertahan dan menyelesaikan kuliah di jurusan Bahasa Jerman.  Berat memang, namun baginya tidak ada pilihan. 

Walau terasa berat, akhirnya sampai juga ia ke jenjang semester akhir. Tak dinyata , tak di duga,  Di akhir semester inilah ia bertemu dengan seorang dosen killer yang sekaligus sebagai dosen pembimbing tugas akhir. Apes… pes … pes…..pes..

”Aku sama dosen killer itu di panggil, terus beliau bilang kalau aku harus ke ruangan khusus (supaya pinter), dibilang tolol karena aku engga paham apa-apa”, ungkap Vitri sambil tertawa. 

”Tapi dari situ aku jadi penasaran,   emangnya bahasa Jerman itu sesusah apa sih ?!, lanjutnya. 

Walau ada rasa gundah setelah kejadian itu, akan tetapi tidak mematahkan semangatnya. Malah setelah kejadian tersebut justru semangat barunya muncul tiba-tiba.

Sesampai di kosannya, ia keluarkan semua buku-buku dari semester satu sampai akhir. 

”Aku pelajari dan aku kerjakan dalam satu minggu dan tak dinyana  aku ternyata suka sama bahasa Jerman. Ini terjadi pas di akhir-akhir aku mau lulus, saat  mengerjakan skripsi. Tapi dalam hitungan bulan, sudah jelas tidak memungkinkan untuk belajar bahasa Jerman di  kampus sampai benar-benar bisa, ” jelas Vitri  mengungkapkan pengalaman saat pertama kali  ia jatuh cinta dengan bahasa Jerman.

Walaupun semangat mempelajari bahasa Jerman ada di menit-menit terakhir namun usahanya ternyata tidak sia-sia. Semangat dan kerja keras di menit-menit terakhir itulah yang mampu membawanya bisa menyelesaikan tugas akhir dan memupuk rasa suka pada  bahasa Jerman. 

 

Vitri Terbang ke Jerman Lewat Au-Pair

Berawal dari membaca mading di jurusan, Vitri mengetahui ada info mengenai Au-Pair di Jerman. 

”Tiba-tiba aku baca mading jurusan, ada info tentang Au-pair. Akhirnya aku nyari sendiri. Karena teman-teman yang saat itu mau ke Jerman,  engga mau ngebagi infonya sama aku ” ujar  Vitri. 

”Setiap ditanya jawabannya selalu sama,….. ‘aku ngga tau tentang itu’, jadinya aku cari sendiri keluarga di Aupairworld”, tuturnya. 

Puji syukur, dalam jangka waktu 3 bulan, iapun  sudah mendapatkan keluarga angkat untuk program Au-Pairnya.

” Awalnya sama keluarga ini juga aku ditolak, tapi mungkin rejeki akhirnya mereka ngontak aku lagi lewat facebook”, imbuhnya. 

Setelah kontrak dan visa di tangan dibarengi dengan doa kedua orangtuanya, akhirnya Vitripun terbang ke Jerman.

Satu tahun ia menjadi Au-pair. Selama menjadi Au-pair, hubungan Vitri dengan keluarga angkatnya sangat baik. Vitri dianggap sebagai keluarga sendiri. 

 

Perjuangan Di Jerman 

Banyak orang yang bermimpi sekolah ke luar negeri, dengan harapan agar bisa menggabungkan antara kwalitas profesional dan  kemampuan interkultur saat kelak mereka terjun dalam bekerja. Namun tidak sedikit di antara mereka yang terbentur dengan uang jaminan. 

Uang jaminan menjadi momok  bagi orang Indonesia yang ingin belajar di Jerman atau negara lain. Namun tidak dengan Vitri. Vitri tidak berdiam diri, ia terus mencari berbagai informasi mengenai berbagai kemungkinan agar ia tetap bisa melanjutkan kuliahnya.

Saat menjadi Au-Pair , ia mengungkapkan pada orang tua angkatnya bahwa ia ingin melanjutkan kuliah di Jerman. Kemudian orang tua angkatnya membantu mencari berbagai informasi mengenai visa pelajar di Jerman. Selain informasi dari orang tua angkatnya, Vitripun tetap harus mencari informasii sendiri.

Setiap informasi yang ia dapat dari orang tua angkatnya ataupun yang ia cari sendiri maka Vitripun harus mencari kebenarannya akan info  tersebut sendiri.  Tidak segan-segan ia menanyakan dan mencari info langsung ke Auslanderbehörde terdekat  dimana ia tinggal. 

Vitri beruntung mendapatkan surat Verpflichtungserklärung/VE yaitu semacam surat jaminan dari keluarga angkat dimana Vitri menjadi Au-Pair. Dengan adanya VE tersebut, maka ia bisa melanjutkan kuliah tanpa harus menyetorkan deposito jaminan yang saat itu besarnya sejumlah 8040 euro. 

”Walaupun  aku punya VE, uangnya harus tetap ada masuk ke rekening tiap bulannya. Makanya aku kerja banyak di beberapa tempat sehingga uangnya terkumpul ” jelasnya

 

Cara Hemat Penyetoran uang jaminan Kuliah Di Jerman ala Vitri 

Saat Vitri mengajukan visa pelajar, Vitri menyerahkan buku tabungan dengan saldo   sekitar 2000 euro ( yang ia dapatkan selama Au-Pair dan kerja di akhir pekan).  Kemudian ia pun menuturkan bahwa dalam setiap bulannya ia diharuskan menabung uang sekitar 700 euro. 

” Jadi  uang dari hasil Putzen dan babysitting selalu aku kumpulkan sampai memenuhi 750 euro. Kalau ternyata lebih dari 750 euro, kelebihannya disimpan,  barangkali bulan depan pemasukannya dibawah 750 euro. Buat rumah waktu itu 230 euro, asuransi 41 euro, internet 35 makan 50 euro. Sisanya dikirim sebagian ke Indonesia, sebagian lagi di tabung, Jadi aku punya beberapa tabungan khusus slot masing-masing. Ada yang buat nabung tiket pulang ke indo, ada yang buat travel di Jerman, ada yang dana kalau buat makan di luar dsb ” jelasnya dengan rinci. 

Perjuangan Vitri perlu dikasih empat jempol. pertama, ia bekerja di beberapa tempat bukan hal yang gampang, ia harus cermat bisa membagi waktu antara bekerja, belajar dan aktifitas lainnya. Kedua, ia mengandalkan kemampuan dirinya sendiri tanpa meminta pada kedua orang tuanya, artinya ia sudah berani mencari solusi sendiri untuk menata hidupnya dalam melanjutkan pendidikannya.

Walaupun Vitri pernah kuliah di jurusan bahasa Jerman saat di tinggal di Indonesia, namun ia diharuskan untuk ikut kursus bahasa Jerman. Karena Vitri memerlukan Bescheinigung dari tempat kursus untuk apply visa. 

”Aku lesnya ngga sering karena uangnya lebih baik aku tabung dibanding bayar les. Waktu itu hanya 5 kali, jadi bayar lesnya ya hanya untuk 5 kalipertemuan aja” ungkap Vitri sambil menceritakan juga bahwa tadinya ia mau mengambil S1 kedokteran tapi ia ragu karena takut kalau harus berhadapan dengan mayat jadi akhirnya ia meneruskan  kuliah S2. 

” Dari Aupair ke mahasiswa aku ngga langsung. Aku ikut persiapan  sebelum kuliah. Dulu,  maksimal 3 semester tapi mungkin rejeki waktu itu aku dapatnya 2 tahun. Selama dua tahun itu aku les, persiapan ujian juga karena butuh sertifikat bahasa. Tes DSH aku nggak lulus setelah 2 kali ujian. Akhirnya aku ikut test DAF dan alhamdulillah langsung lulus 1 kali ujian, bahkan ada nilainya yang tinggi” ungkap Vitri panjang lebar mengenai lika liku perjuangan masuk S2 di Jerman.

Saat ini Vitri masih kuliah S2 Erziehungswissenschaft sambil bekerja sebagai Fahkraft di Lebenshilfe.

”Tugas akhir sih sudah di kumpulkan, tapi belum tahu lulus atau tidak, kalau tidak lulus saya istirahat dulu tapi saya masih bisa bekerja dan S2nya bisa dilanjutkan lagi nanti lain waktu”. ujarnya.

 

Pesan dan Kesimpulan 

” oya, pesan buat anak-anak Indonesia yang mau kuliah di Jerman, harus perbanyak kontak dengan orang Jerman. Kalau bisa kurang-kurangi ngobrol pakai bahasa Indonesia. Orang-orang Jerman paling senang kalau kita bilang ingin belajar bahasanya. Dan ini membantu banget buat masa-masa kuliah, ngerjain tugas dan lain-lain. Karena rata-rata yang susah  dari kuliah di Jerman itu bukan pelajaranya doang tapi bahasanya. ” pesan Vitri sambil mengakhiri ceritanya. 

Demikianlah kisah perjuangan Vitri di Jerman, semoga kisahnya bisa menginspirasi anak-anak Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah. Dari cerita Vitri bisa diambil kesimpulan bahwa bagi orang Indonesia yang sudah ada di Jerman baik melalui Au-Pair, FSJ atau Ausbildung bisa melanjutkan kuliah tanpa harus menyetorkan uang jaminan yang besar.

Anda bisa bernegoisasi  dengan Auslanderbehörde setempat,  agar mendapat keringanan dalam penyerahan bukti penyetoran deposito sebagai jaminan saat mengajukan visa pelajar.

So, bagi yang ingin kuliah di Jerman tapi tidak punya uang bányak, maka masih banyak jalan yang bisa ditempuh. Masih banyak jalan menuju Roma. Jadi bisa melalui Au-Pair dulu, atau FSj dulu , atau BFD dulu lalu Ausbidung sebagai batu loncatan kemudian anda bisa  kuliah. Memang banyak perjuangannya tapi perjuangan dan pengalaman banyak kegunaannya di kala masih muda. Bukankah pepatah  mengatakan bahwa Romapun tidak dibangun dalam satu hari. Jadi semangat ya.