6 sifat yang ”mungkin” tidak cocok untuk hidup di Jerman

 

 

Orang bilang lain lubuk lain belalang, begitu pula lain negara lain juga kebiasaan dan adat istiadatnya. Bila ada yang berkeinginan atau punya rencana  untuk tinggal di Jerman karena ingin kuliah, kerja di Jerman  ataupun punya pasangan orang Jerman sepertinya perlu  merenung sejenak ”Apakah kira-kira cocok untuk hidup di Jerman atau tidak?”

Berikut adalah  beberapa sifat  ”mungkin” tidak cocok bila tinggal  di Jerman.

 1. Ketergantungan pada orang lain 

Pada awal-awal,  saya dan  anak-anak kalau pergi kemana-mana selalu didampingi suami namun setelah dua bulan di  Jerman kami mulai dilepas sedikit demi sedikit harus pergi sendiri, padahal bahasa Jerman kamipun  belum bisa sama sekali. Kami mulai diajari cara berbelanja sendiri , naik tranportasi umum dan pergi ke dokter sendiri-sendiri.

Saat belajar naik transportasi umum, suami saya naik mobil sendiri dan kami naik kereta. Jadi kami hanya diantar sampai stasiun dan harus beli tiket sendiri. Kami bertemu di stasiun yang telah kami tentukan sebagai meeting point. Belajar  dari stasiun terdekat sampai stasiun yang lumayan jauh sampai akhirnya saya dan anak -anak bisa bepergian sendiri ke negara tetangga tanpa suami.

Begitupun masalah pekerjaan rumah harus dikerjakan sendiri tanpa bantuan assistant rumah tangga. Nyuci, beres-beres, nyetrika, masak  akhirnya kami bagi-bagi tugas karena kalau mengandalkan assistant rumah tangga cukup lumayan mahal.

Ketergantungan pada orang lain untuk sementara waktu boleh-boleh saja tapi tetap harus belajar untuk tidak tergantung, kalau terlalu tergantung dengan seseorang dan orang itu sibuk atau sakit  atau memang  benar-benar tidak bisa membantu maka akan sulit bergerak. Jadi sebisa mungkin harus bisa memaksakan diri untuk mandiri.

2. Mudah tersinggung

Seperti apa sih orang Jerman itu. Menurut saya orang Jerman itu baik dan dalam melakukan sesuatu mereka selalu punya kode etik yang harus diikuti alias bena-benar punya /mengikuti aturan, dalam kesehariannya mereka selalu berusaha membaca baik buku, koran atau majalah dan mereka itu orangnya direk atau langsung alias to deu poin.

Yang dimaksud direk atau langsung disini adalah mereka akan memberi tahu langsung jika mereka suka atau tidak suka. Kalau ingin mendapatkan jawaban yang jujur mengenai bagaimana mengenai diri kita yang sebenarnya maka orang Jerman akan memberikan jawaban yang jujur, apa adanya. Kalau kita A maka mereka akan mengatakan A. Mereka tidak akan mengatakan B hanya karena tidak enak atau takut menyinggung perasaan.

Lampiran evaluasi kerja karyawan. Kritikan menjadi variabel pada evaluasi kerja seorang karyawan

 

Kritikan di Jerman menjadi variable dalam penilaian evaluasi karyawan. Kemampuan menerima kritikan dengan tidak menganggap bahwa kritikan itu sebagai sesuatu hal yang personal ( tidak diambil hati )  dan bisa menerima, menghargai kritikan serta mampu memperbaikinya dengan mengikuti apa yang disarankan adalah menjadi poin-poin dalam penilaian evaluasi karyawan di variabel Kritikan tersebut . Selain itu tidak jarang dituntut untuk bisa menegur bila terjadi kesalahan yang dilakukan orang lain. Saya pernah mendapatkan catatan nilai merah hanya karena saya dianggap mereka selalu iya iya saja menerima dan tidak pernah menegur ketika yang lainnya melakukan kesalahan.

Jadi kalau ingin pindah ke Jerman dianjurkan  untuk belajar menerima kritikan dan tidak cepat tersinggung, jangan segala sesuatu menggunakan hati, mulai  belajar menilai sesuatu itu logis atau tidak logis. Memang tidak gampang namun bila ada kemauan  belajar sedikit demi sedikit akan berubah.

Sebenarnya tinggal mind set mana yang dipasang saat orang to deu poin atau kritikan itu datang, kalau berbesar hati maka akan memicu diri untuk bangkit dan berusaha lebih baik tapi kalau tidak berbesar hati akan membuat down  atau mungkin sakit hati bahkan yang terparah adalah ingin pulang kampung.

3. Tidak Kuat Panas

Pada saat sommer atau musim panas di Jerman itu lumayan panas , suhu bisa mencapai 30 derajat sampai 35 derajat. Nah kalau yang tidak kuat panas, tentunya perlu AC. Di Jerman jarang sekali rumah atau kantor yang  pasang AC, paling banteur mereka pasang kipas angin. ”Nah kira-kira kuat ngga ya dengan suhu tersebut tanpa AC ?”

4. Nyinyir ngurusin orang

Nyinyir sering didengar dalam lingkungan pergaulan dan bisa jadi merupakan hal yang lumrah dimasyarakat. Namun saat akan hidup di negari orang, ada baik bertanya pada diri sendiri. ”Seberapa nyinyirkah saya ini ?”. Karena hidup di negara orang, lingkungan dan kebiasaan dan kebudayaannya berbeda, yang artinya akan menemukan bentrokan-bentrokan kebiasaan yang tidak lazim atau sesuatu yang tidak pernah dilihat pada saat hidup di tanah air.

 

Di Jerman itu matahari tidak sepanjang waktu ada, jadi kalau sommer orang benar-benar menikmati panasnya matahari, sampai kadang-kadang ada orang  nudy tanpa selembar benang atau berbikini ria di taman,  di balkon,  di  sauna atau di sungai.

Apabila tidak bisa menerima orang yang nudy lebih baik menghindarinya dengan tidak banyak komentar.

Selain nudy masih banyak hal-hal yang aneh yang membuat shock kultur saat hidup di negeri orang dan sebagai pendatang harus bisa menyikapinya dengan baik tanpa harus nyinyir atau mengurusi hidup orang lain karena masih banyak hal-hal yang lebih penting yang harus dikerjakan agar hidup baik dan positip tanpa dibebani dengan urusan orang lain.

 

5. Vokal dalam agama atau bicara dengan membawa-bawa agama

Bagi orang Jerman agama dan tingkah laku adalah privasi masing-masing. Jadi saya fikir kalau orang yang suka berbicara vokal dalam agama atau suka bicara sesuatu dengan membawa agama baik yang dianut sendiri atau yang dianut orang lain, harus lebih  berhati-hati. Mereka akan merasa terganggu dengan hal demikian tersebut. Kalau kita menghiraukannya maka tidak akan mendapatkan tempat di hati orang Jerman

6. Mudah terbawa arus

Menerima perbedaan kebudayaan dan kebiasaan di perantauan negeri orang bukan berarti harus diterima seluruhnya ditelan bulat bulat  tapi harus bisa memilah-milah mana kira kira yang baik untuk hidup mana yang tidak baik. Saat ada budaya atau kebiasaan yang kurang baik datang menghampiri maka harus pintar berenang untuk menepi agar tidak terbawa arus.  Tetap harus bermain cantik dalam memilih kebiasaan dan kebudayaan saat hidup diperantauan negeri orang agar bisa menjadi diri sendiri tanpa menghilangkan jati diri.

 

 

Itulah hal-hal yang perlu  perlu direnungkan sebelum pindah ke negeri orang terutama  ke Jerman. Apakah kira.kira cocok atau tidak. Silahkan merenung sejenak jangan terburu-buru. Jangan sampai , sudah berada di negeri orang baru menjerit ” I am not belong here ”.

Saya mengajak merenung sejenak bukan berarti menakut.nakuti. Setidaknya dengan mengetahui hal-hal tersebut di atas akan  lebih matang dalam mempersiapkan mental dan spritual sebelum berangkat ke negeri orang terutama Jerman. So, mulailah bertanya pada diri sendiri “Apakah saya cocok untuk tinggal di Jerman ?”.

 

Komentar

  1. Tulisannya inspiratif sekali, bisa menambah wawasan….sukses mba

    1. Terimakasih mba Erni. Sukses juga buat mba Erni ya

  2. Prinsip hidup saya sangat simple mba…
    Ibarat kata pepatah.., di mana bumi di pijak di situ langit di junjung..
    But walau bagaimana pun juga tetap lah kita mencintai negeri kita sendiri..
    🙏🏼👌🏼👍🏼😊🙂

    1. wah kayaknya cocok neh tinggal di Jerman. Ayo nyusul ya!! biar saya ada teman

  3. Wah bermanfaat sekali Mbak Tipsnya. Sepertinya kita memang harus bisa bersikap netral ya Mbak, dalam bersosialisasi, apalagi di negeri orang. Semua perbedaan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita, agar lebih bijaksana lagi dalam bersikap. Oh ya btw, Mbak Neny tinggal di Jerman ya?

    1. Terimaksih Maba Ulfah. Iya saya tinggal di Jerman sejak April 2017. Betul sekali harus netral dalam bersikap-

  4. Hore, semua kriteria tersebut di atas tidak ada padaku, lho, Mba. Apa itu artinya aku bisa tinggal di Jerman, ya? Btw, kapan-kapan cerita dong mba kok bisa tinggal jauh dari tanah air. Siapa tahu, aku juga bisa merasakan tinggal di belahan bumi sana.

    1. alhamdulillah, berarti Mba Haeriah bisa menyusul. Nanti insyaallah saya buat coretan mengenai kenapa saya bisa tinggal di Jerman ya. Saya doakan mba mudah-mudah bisa ke sini ya- Siapa tahu kita bisa ketemu ya

  5. Halo Mba salam kenal ya. Kalau menurut aku semua hal di atas emang kurang cocok tinggal dimana aja bukan hanya ga cocok tinggal di Jerman aja hihihi 😂. Mau hidup dimana pun kita memang nggak boleh ketergantungan dengan orang lain, sebaiknya ga boleh juga baperan ya untuk sesuatu yang nggak penting, dan dimanapun kita tinggal, kita emang ga boleh seharusnya nyinyir ama orang ya.

    Tapi ngomong-ngomong mba ada yang biki aku penasaran. Kan di Jerman itu panas ya, tapi kenapa yang pasang AC kok cuma dikit ya mba. Knapakah itu mba?

    1. Hai Mba Yeni salam kenal juga makasih udah diingetin, Betul mba memang semua hal di atas memang kurang cocok dimanapun kita tinggal mau di Indonesia ataupun di Jerman. Hanya saja kalau kita masih punya sifat-sifat tersebut di atas dan hidup di negeri sendiri mungkin dampaknya tidak terlalu berat dibandingkan bila kita hidup di luar negeri misalnya kalau kita kurang mandiri, mungkin kalau di indonesia dikit-dikit bisa minta tolong sama orang lain dan kalaupun harus bayar mungkin bayarannya tidak terlalu mahal. Nah kalau di negeri orang minta tolong sama orang lain tentunya bayar mahal.

      Kalau orang Jerman itu orangnya direk tidak seperti orang Indonesia yang kalau memberi pandapat atau menegur masih ngukur perasaan orang lain. Nah kalau bapernya dibawa ke Jerman maka akan menghadapi kesulitan dalam bersosialisai karena memberikan pendapat, kritikan atau menegur orang lain adalah hal yang normal dan kita dituntut untuk mampu menerimanya tidak dimasukin hati adalah suatu keharusan karena orang bebas berpendapat dan mengeritik.

      Masalah nyinyir he he he ….di Jerman banyak kultur shocknya yang kadang bentrok atau tidak lazim dengan budaya kita.

      kalau mengenai Ac… he he he saya juga belum survey tapi ada beberapa kemungkinan :
      1. panasnya hanya 2 sampai 3 bulan saja.
      2. udara di Jerman bersih jadi pas buka jendela ngga pengap
      3. bisa juga mungkin untuk menghindari dampak negative dari pemakain AC, saving energy , saving money he he he maklum Jerman kan selalu memikirkan ke depannya, tidak hanya untuk satu atau tiga periode tapi ratusan generasi.

  6. Terkadang memang banyak hal yang harus dipikirkan untuk berkunjung atau stay di negara orang. Jangankan sampai beda negara. Satu negara beda provinsi kadang juga beda.

    1. Iya lain ladang lain belalang ya.

  7. Wah pengetahuan baru nih. Memang kalau sudah memutuskan keluar negeri kita harus siap menerima konsekuensi perbedaan ya mbak. Bahkan harus mandiri dan belajar memahami perbedaan budaya kita dengan negara tersebut.

  8. Wah, kayaknya aku cocok hiduo di Jerman, hahahaha. Secara aku biasa ke mana-mana sendiri, tahan panas krn di runah gak ada AC, suka to the point, hehehe. Btw salam kenal ya, Mbak. Ditunggu cerita lainnya.

    1. Siip atuh kalau cocok. Siap mba Damar saya coba buat.

  9. Memang banyak hal yang harus disiapkan saat memilih untuk tinggal di tempat lain. Cara beradaptasi yang terbaik adalah dengan menghargai setiap perbedaan dan tetap menjadi diri sendiri tanpa harus memaksakan pendapat. Makasih banyak Mbak, tulisannya benar-benar menginspirasi. Kapan ya saya jalan-jalan ke Jerman? hehe…

    1. Sama-sama Mba. Hayuuu atuh mangga. Kabar kabari ya.

  10. Insight baru buatku mbak. Aku perantau, tapi masih dalam negeri, hehe. Dan rasanya semua karakter di atas memang tidak cocok untuk perantau, dimanapun. Doakan suatu saat aku dan keluargapun bisa menjejakkan kaki di Jerman 🙂

    1. Aamiin mudah2an ya bisa. Saya doakan.

  11. Mbak..suka baca ini. Cerita lagi ya…
    Aku belum pernah ke Jerman, tapi pernah tinggal 2 tahun di Amerika. Sedikit berbeda sih
    Ditunggu cerita lainnya.

    1. Terimakasih banyak Mbak Dian. Iya mba Dian tiap negara berbeda. Wah kalau ke Amerika lebih susah masuknya ya?
      Insyaallah nanti bikin cerita yang lainnya.

    2. Ayuk sini main mba Dian. Jerman masuknya ngga sesuah Amrik.

  12. Kerennnn sukses y teh

    1. Maacih say. sukses juga buat Ria

  13. Hiks hiks, ya saya pernah merasakan “I don’t belong here”, karena apa2 mau kerja, usaha, berkreasi dan ekspresikan diri serba kepentok aturan birokrasi, karena segala ada peraturan dan prasyarat yang umumnya menimbulkan frustasi.
    Akhirnya “nyerah” mencoba menjalani runut sesuai tata birokrasi negara orang meski tertatih2 karena luka “pride” diri dikalahkan kebutuhan hidup. Akhirnya menerima dan menjalani saja dibawa dalam canda jiwa, so it’s the life and life is beautiful. Bgitu ya kan bu Nen?

    1. betul zekali, berjuang dari 0 lagi. That’s a life.tetap harus disyukuri. Sukses selalu dan semoga lulus B2 nya.

  14. Thanks Mbak.. informasinya sangat bermanfaat..

    1. Sama-sama mba Dewi, terimaksih sudah mampir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *